Saturday, 2 November 2013

Bagaimana Cara Mengusir Ular?

ular tidak takut garam
Selama ini di masyarakat berkembang anggapan dan kepercayaan bahwa menghindari serangan ular bisa dilakukan dengan garam (natrium klorida). Jadi, jangan heran ketika camping, banyak orang menaburi sekeliling tenda dengan garam. Hal itu dilakukan agar ular tidak bisa masuk ke dalam tenda. Saya pun pernah melakukannya. Tapi, benarkah tindakan itu?

Faktanya adalah ular tidak takut sama sekali terhadap garam. Bahkan, ketika ditaburi garam pun kulit ular tidak mengalami penyusutan.

DERIC (Depok Reptile - Amphibi Community), yakni komunitas penggemar ular dan reptil asal Depok Jawa Barat, membuktikan ketidak-takutan ular terhadap garam. Di hadapan para pengunjung yang menghadiri TNOL Gathering pada Maret 2011, DERIC memperlihatkan bahwa ular memang tidak takut sama sekali terhadap garam. Bahkan ular tersebut pun tidak menghindar ketika ditaburi garam

Menurut Averroes Oktaliza, Wakil Ketua DERIC, adanya pemikiran yang berkembang di masyarakat, bahwa ular takut garam merupakan budaya dan pendidikan yang salah kaprah terhadap ular. Dan, uniknya kesalahan tersebut masih terjadi hingga kini dimana setiap orang selalu membawa garam untuk menakuti ular, baik ketika berpetualang di alam bebas atau di rumah.

“Ternyata ular tidak takut garam kan, garam itu hanya untuk lintah,” tegas Averroes.

Ave, biasa lelaki ini dipanggil menuturkan, adanya anggapan bahwa ular takut terhadap garam, karena selama ini berkembang pendapat bahwa ular memiliki kulit yang licin, lengket dan berlendir. Jadi, ada anggapan untuk mematikannya harus ditaburi dengan garam. Namun, kenyataanya kulit ular tidak berlendir sehingga tidak akan takut terhadap garam.

“Sekalipun ada ular yang licin itu hanya ular jenis akuatik yang hidupnya di air. Biasanya di tubuh ular tersebut tumbuh alga yang menyebabkan kulitnya menjadi licin,” jelasnya.

Terkait dengan pertanyaan, jika tidak dibunuh maka ular akan membunuh, Ave menuturkan, hal tersebut merupakan anggapan yang salah. Sifat dasar ular yang merupakan binatang liar adalah cenderung menghindar dibanding menyerang ketika bertemu manusia.

“Kalau ular sampai mengigit atau menyerang tentu ada yang salah yang dilakukan manusia. Entah itu menggoda atau tidak sengaja mengancam si ular, seperti kesenggol atau keinjak. Kalau anak kecil kegigit ular karena penasaran dan menggoda ular,” ungkapnya.

Sementara, menurut Rudi Rahardian, Ketua Sioux – lembaga studi ular Indonesia mengatakan, ular tidak takut garam memang belum dibuktikan secara riset ilmiah. Namun, secara kasat mata ular memang tidak takut garam dan itu sudah dibuktikan oleh berbagai kalangan atau pihak yang mengetahui tentang spesifikasi ular.

“Kalau secara teori, garam akan berpengaruh terhadap binatang mollusca yakni binatang yang memiliki kulit berlendir. Sementara ular tidak berlendir,” tegasnya meyakinkan.

binatang mollusca
Bekicot dan lintah adalah beberapa diantara jenis binatang mollusca (berlendir)

Bagaimana Cara Mengusir Ular?

Ular sangat takut terhadap benda yang memiliki aroma yang sangat menyengat seperti bau bensin atau minyak tanah. Sebab, ular memiliki indera penciuman yang sangat sensitif.

elang predator ular
Oleh karena itu, kalau mau aman saat camping (berkemah) terhadap serangan ular, maka siram saja sekeliling tenda dengan bensin. Namun, hal tersebut sebenarnya cukup mengundang bahaya karena bisa menyebabkan kebakaran. Cara lainnya yang lebih aman adalah dengan membawa predator ular, yaitu burung Elang. sumber

Tuesday, 1 October 2013

BAHAYA LUKA BATIN TERHADAP MOTIVASI BELAJAR DAN KEJIWAAN SESEORANG

Berbicara mengenai semangat belajar, terutama pelajar yang kurang termotivasi belajar, sungguh sangat disayangkan karena tidak ada diantara kita yang terlahir sebagai anak malas. Jarang sekali orangtua mengeluh bahwa bayi atau anak balita mereka kurang termotivasi. Secara alamiah bayi dan anak kecil selalu didorong oleh rasa ingin tahu, didorong oleh kebutuhan yang kuat untuk mengeksplorasi, berinteraksi, dan memahami lingkungan mereka. Sayangnya, ketika anak-anak tumbuh, semangat mereka untuk belajar sering tampaknya menyusut.

Belajar sering dikaitkan dengan pekerjaan membosankan, bukan suatu kesenangan apalagi kenikmatan. Banyak lagi yang hanya hadir secara fisik di dalam kelas tetapi tidak secara mental; mereka gagal untuk menginvestasikan diri sepenuhnya dalam pengalaman belajar. Namun pemahaman tentang Psikologi Belajar dapat membantu pendidik dan orangtua dalam mengurangi sikap apatis pelajar dan membangkitkan semangat belajar siswa atau anak tersayang Anda.

Kurangnya motivasi belajar bisa juga diakibatkan karena adanya luka batin. Luka batin ini disebabkan oleh: 
  1. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna. Hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, yang berangsur akan menyudutkan kedudukannya dan menghancurkan mentalnya. Hal ini banyak terjadi pada orang-orang melankolis. 
  2. Terjadinya konflik sosial-budaya akibat adanya norma yang berbeda antara yang bersangkutan dan yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi, misalnya orang dari pedesaaan yang telah mapan sulit menerima keadaan baru yang jauh berbeda dari masa lalunya yang jaya. 
  3. Cara pematangan bathin yang salah dengan memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial. 

Luka batin adalah luka yang terjadi pada lapisan batin yang terdalam akibat suatu tekanan yang terjadi secara luar biasa berat atau terjadi secara terus menerus. Batin yang terluka akan menimbulkan kesedihan yang mendalam, perasaan tidak menentu, kemarahan, kejengkelan, hidup tidak terarah, sesekali timbul keinginan mengakhiri hidup yang terasa pahit. Matahari pagi yang bersinar indah menjadi tidak berarti, semua tampak kelam kelabu. Luka batin pada orang dewasa biasa terjadi karena masalah asmara, cinta tak terbalas, putus cinta atau dikhianati pasangan.

Masa remaja adalah masa yang sangat rentan terjadinya luka batin karena asmara. Dorongan kuat untuk memiliki dan dimiliki oleh pasangan lawan jenis menyebabkan remaja putri terkadang rela melakukan apapun yang diinginkan oleh pacar, bahkan hubungan seksual sebelum nikah. Putus cinta yang terjadi pada remaja putri yang sudah menjalin hubungan terlalu dalam akan menimbulkan luka batin sangat parah. Keluarganya pun tidak luput akan terimbas dengan penderitaan ini. Masalah hukum juga akan mengakibatkan luka batin yang luar biasa berat pada orang dewasa. Luka batin juga bisa terjadi pada anak, dan hal ini justru luput dari perhatian orang tua. Sulit konsentrasi, pembangkang, hiperaktif, sulit komunikasi adalah gejala awal dari adanya luka batin anak. 

Batin Sadar - Batin Bawah Sadar

Mind yang biasa diterjemahkan sebagai pikiran, sebenarnya lebih tepat diterjemahkan sebagai Batin yang berisikan Pikiran (though), Perasaan, Kepribadian, dan Emosi. Mind terdiri dari 2 lapisan / bagian yaitu Concioous Mind dan Subconscious Mind. Batin Sadar dan Batin Bawah sadar. Batin sadar berperan dalam proses kerja pikiran sadar sehari hari seperti belajar sesuatu yang baru, berpikir analitik, bertindak sesuai alasan, berdebat dengan rasional, berpikir logis, dan intelektual. Batin Sadar punya keterbatasan dalam melakukan prosesing data dan hanya mampu menyimpan memori jangka pendek. Segala hal yang tidak berdasarkan logika dan intelektual akan ditolak oleh batin sadar
Lapisan batin bawah sadar berperan penting pada proses kehidupan fisik manusia yaitu pada proses kerja organ tubuh dan syarat otonom, bersifat kreatif, imajnatif, intuitif, tidak logis, bertindak berdasarkan sensor syaraf / reflek. Segala hal proses kreatif penciptaan terjadi pada lapisan batin bawah sadar ini. Batin bawah sadar berisikan memori jangka panjang termasuk memori masa lalu. Batin bawah sadar berperan sangat besar pada kehidupan manusia, berperan dalam kelangsungan hidup manusia, dia selalu menjaga keamanan kehidupan dengan gerakan refleks dan intuisi. Batin bawah sadar mempunyai kapasitas proses data secara tidak terbatas, sehingga dapat dikatakan kekuatan batin bawah sadar jauh melebihi batin sadar.

Bagaimana Bisa Terjadi Luka Batin ?

Kalau dilakukan komparasi dengan sistem kerja komputer, batin bawah sadar adalah Hard Disk yang berisikan semua memori data base untuk pengoperasian komputer secara keseluruhan. Batin sadar adalah operating system, soft ware untuk melakukan proses kerja dengan menyimpan dan mengambil data pada hard disk. Kapasitas proses data batin sadar sangat terbatas, berbeda dengan kapasitas proses data dari batin bawah sadar yang tidak terbatas. Luka batin bisa disamakan dengan adanya "bad sector" pada hard disk karena serangan virus. Akibat adanya virus pada komputer akan menyebabkan komputer tidak bisa berjalan dengan semestinya bahkan bisa rusak. Hal yang sama juga terjadi pada batin manusia. Karena adanya suatu kejadian buruk yang menimpa seseorang bisa mengakibatkan luka / trauma pada batin bawah sadar.

Jika terjadi luka pada tubuh fisik akan segera terlihat jelas gejalanya seperti darah mengucur, bengkak dan rasa sakit sehingga kita dapat segera melakukan tindakan pengobatan dengan memberikan obat luka, antibiotik dsb. Tetapi apabila terjadi luka didalam batin yang tidak terlihat dan kemudian diabaikan akan terjadi mekanisme pertahanan diri dari batin bawah sadar dengan segera menutup rapat memori trauma tersebut. Hal itu memang berguna sebagai pertahanan diri sesaat, sehingga rasa sakit batin akibat trauma tidak berlanjut. Yang menjadi masalah adalah apabila kejadian trauma yang sudah terpendam rapat pada batin bawah sadar secara tidak sengaja terpicu muncul kembali, dan akan di respon oleh batin sadar sehingga timbul berbagai penyakit akibat trauma masa lalu. Trauma yang muncul kembali ini bisa berupa penyakit mental seperti Perasan marah tanpa sebab, Depresi, Insomnia, Phobia, Psikosomatis, anxiety disolder (gangguan kecemasan), OCD (Obsessive Compulsive Disorder) dsb. Atau muncul sebagai penyakit fisik seperti Hipertensi, Kanker, Maag, Alergi, obesitas dsb.

Kejadian trauma masa lalu bisa terjadi karena banyak sebab seperti perlakuan buruk masa kecil, perlecehan seksual, tekanan hidup, kecelakaan, bencana alam. dsb. Bahkan sebab trauma bisa terjadi saat pembuahan sel telur oleh sel sperma. Kebencian yang dirasakan oleh seorang calon ibu saat melakukan hubungan seksual bisa menyebabkan terjadinya trauma pada bayi yang lahir kelak. Perasaan dan kondisi calon ibu sangat berperan pada kesehatan batin calon bayi saat masih di kandungan. Peran orang tua sangat besar terhadap perkembangan batin seorang anak, penyebab masalah mental yang dialami orang dewasa bisa terjadi akibat hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua sewaktu masih kecil. Perlakuan dan tekanan lingkungan sosial juga bisa menjadi sebab terjadinya luka batin. 

Jadi berhati-hatilah dengan luka yang satu ini. Mudah-mudahan kita dan anak-anak kita bisa menghindarinya, dan memang jangan sampai terjadi..



Ridwan Fadillah.

Friday, 20 September 2013

Manfaat Jengkol untuk Kesehatan Tanaman Padi

Manfaat Jengkol untuk Kesehatan Tanaman Padi
Siapa tidak kenal jengkol? Panganan khas Betawi itu kerap dikonsumsi sebagai lauk pelengkap nasi uduk. Selain untuk dikonsumsi, buah jengkol yang memiliki bau sangat menyengat ternyata memiliki segudang manfaat yang baik untuk kesehatan.

Namun, di Desa Beringin Raya, Provinsi Bengkulu, petani setempat menggunakan kulit jengkol untuk menangkal gulma pada tanaman padi. Selain bermanfaat, usaha yang dilakukan para petani itu telah memanfaatkan 20 ton limbah kulit jengkol yang dibuang setiap hari di Bengkulu. Bahkan, di Jawa Barat diperkirakan mencapai 100 ton limbah kulit jengkol yang bisa dimanfaatkan. Demikian disampaikan Dosen program studi (prodi) Ilmu Pertanian, Universitas Bengkulu (Unib) Uswatun Nurjannah dalam ujian terbuka promosi doktor di fakultas pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
"Petani padi sawah di desa tersebut biasanya menabur ekstrak kulit buah jengkol utuh sebelum olah tanah kedua. Cara tersebut ternyata dapat menekan pertumbuhan gulma sekira 15 persen," kata Nurjannah, seperti dikutip dari situs UGM, Selasa (17/9/2013).

Dari hasil penelitian Nurjannah, kulit buah jengkol segar mengandung senyawa fenolat, flavonoid, dan asam galat. Kandungan senyawa tersebut, lanjutnya, merupakan hasil ekstrak kulih buah jengkol formulasi cair atau bubuk apabila digunakan saat musim tanam maka akan menghambat pertumbuhan rumput tuton.

"Alelokimia kulit buah jengkol segar menurunkan serapan hara, laju fotosintesis, dan transportasi rumput tuton asal biji," ungkap wanita yang berhasil lulus ujian doktor dengan predikat cum laude tersebut.
Menurut Nurjanah, sebaiknya ekstrak kuliah buah jengkol segar dimanfaatkan 10 ton per hektar agar dapat menggantikan penyiangan gulma. Namun demikian, hambatan alelokimia kulit buah jengkol segar justru terjadi pada gulma berdaun lebih besar dibandingkan rumputan dan tekian.
Dia menyimpulkan, pemanfaatan kulit buah jengkol mampu mengendalikan gulma, tidak hanya menekan biaya produksi dalam usaha padi sawah tapi juga sebagai pembuktian kearifan lokal dalam menangani limbah jengkol sehingga keseimbangan lingkungan terjaga.
"Hal ini juga sesuai dengan kaidah pertanian berkelanjutan," pungkas Nurjanah. Sumber

Thursday, 19 September 2013

Tantangan Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi

Pendidikan Islam
Zaman sekarang, globalisasi menjadi hal yang pasti dan tidak dapat kita hindari. Perkembangan zaman terus menggilas kebutuhan manusia, sehingga banyak di temukan masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan moralitas dan pendidikan, terutama di wilayah perkotaan. Jika kita perhatikan, pendidikan modern saat ini memiliki kedudukan yang tepat dan dapat di unggulkan, akan tetapi jika di lihat nilai spiritualnya sangat mengkhawatirkan khususnya bagi umat Muslim.

Proses Pendidikan yang berasal dari kebudayaan, berbeda dengan kenyataan pendidikan saat ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi.

Pada paradigma lama, upaya pendidikan lebih cenderung sentralistik. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan. Sebaliknya, peran institusi pendidikan dan institusi non-pendidikan masih lemah. Sementara pada paradigma baru, orientasi pendidikan lebih cenderung pada desentralistik, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu kedalam kemajemukan budaya, kemajemukan berfikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum. Pada paradigma baru ini terjadi peningkatan peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuatitatif dalam upaya pengembangan pendidikan, pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha, lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan pada terbentuknya masyarakat madani.

Berdasarkan pandangan ini, pendidikan Islam harus di upayakan untuk:
  1. Mengalihkan paradigma yang berorientasi ke masa lalu (abad pertengahan) pada paradigma yang berorientasi ke masa depan, yaitu mengalihkan dari paradigma pendidikan yang hanya mengawetkan kemajuan, kepada paradigma pendidikan yang merintis kepada kemajuan.
  2. Mengalihkan paradigma yang berwatak feudal kepada paradigma pendidikan yang berjiwa demokratis.
  3. Mengalihkan paradigma dari pendidikan sentralisasi kepada paradigma pendidikan desentralisasi, sehingga menjadi pendidikan Islam yang kaya dalam keberagaman, dengan titik berat pada peran masyarakat dan peserta didik.
Oleh karena itu, dalam proses pendidikan, perlu dilakukan kesetaraan perlakuan sektor pendidikan dengan sektor lain, pendidikan yang berorientasi rekonstruksi sosial, pemberdayaan umat dan bangsa, serta pemberdayaan infrastruktur sosial untuk kemajuan pendidikan islam. Selain itu, pembentukan kemandirian dan keberdayaan untuk mencapai keunggulan, penciptaan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya toleransi dan konsensus dalam kemajemukan. Dari pandangan ini, jelas bahwa dalam pendidikan islam diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal (antarsektor) dan vertikal (antar jenjang-bottom-up dan top-down planning), dan berorientasi pada peserta didik, bersifat multikultural dengan perspektif global.

Rumusan paradigma pendidikan tersebut memberikan arah sesuai dengan arah pendidikan, yang secara makro dituntut mengantarkan masyarakat menuju masyarakat madani yang demokratis, religius, dan tangguh menghadapi lingkungan global. Untuk itu, dalam upaya pembaruan pendidikan Islam, diperlukan strategi kebijakan perubahan untuk menangkap kesempatan perubahan tersebut. Pendidikan Islam harus meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru.

Dengan paradigma baru tersebut, pendidikan Islam harus dapat mengembangkan kemampuan dan tingkah laku manusia yang dapat menjawab tantangan internal dan tantangan global menuju masyarakat madani. Pendidikan harus dikembangkan berdasarkan tuntutan acuan perubahan tersebut dan berdasarkan karakteristik masyarakat madani yang demikratis. Untuk menghadapi kehidupan global, proses pendidikan Islam harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi, kemampuan kerjasama, mengembangkan sikap inovatif, serta meningkatkan kualitas. 

Dengan acuan ini, secara pasti akan terjadi pergeseran paradigma pendidikan, sehingga kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan mampu untuk menangkap dan memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan tersebut. Apabila tidak, pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang “termarginalkan” dan tertinggal di tengah-tengah kehidupan masyarakat global.

Pergeseran drastis paradigma pendidikan sedang terjadi, dengan terjadinya aliran informasi dan pengetahuan yang begitu cepat dengan efisiensi penggunaan jasa teknologi informasi internet yang memungkinkan tembusnya batas-batas dimensi ruang, birokrasi, kemampuan, dan waktu. Pergeseran paradigma tersebut juga didukung dengan adanya kemauan dan upaya untuk melakukan reformasi total di berbagai aspek kehidupan bangsa dan Negara menuju masyarakat madani, termasuk pendidikan. Oleh karena itu pergeseran paradigma pendidikan juga di akui sebagai konsekuensi logis dari perubahan masyarakat, yaitu berupa keinginan untuk mengubah kehidupan masyarakat yang demokratis, berkeadilan, mengargai HAM, taat hukum, menghargai perbedaan dan terbuka menuju masyarakat madani.

Selanjutnya, terjadi perubahan paradigma pendidikan juga merupakan akibat dari percepatan aliran ilmu pengetahuan yang akan menantang sistem pendidikan konvensional yang antara lain sumber ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat pada lembaga pendidikan formal yang konvensional. Sumber ilmu pengetahuan akan tersebar dimana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan. Paradigma ini dikenal sebagai distributed intelligence (distributed knowledge).

.Kondisi ini akan berpengaruh pada fungsi tenaga pendidik (guru dan dosen) dan lembaga pendidikan yang “akhirnya” beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi “mediator” dari ilmu pengetahuan tersebut. Proses pendidikan seumur hidup (long life learning) dalam dunia pendidikan informal yang sifatnya lebih learning based daripada teaching based akan menjadi kunci perkembangan sumber daya manusia. Peranan web, homepage, CD-ROM mempercepat proses distributed knowledge. Hal ini secara langsung akan menentang sIstem kurikulum yang rigid dan sifatnya terpusat dan mapan yang kini lebih banyak dianut dan lebih difokuskan pada pengajaran dan kurang pada pendidikan. Ilmu pengetahuan akan terbentuk secara kolektif dari banyak pemikiran yang sifatnya konsensus bersama dan tidak terikat pada dimensi birokrasi atau struktural.

Dengan demikian, pendidikan Islam harus mulai berbenah diri dengan menyusun strategi untuk menyongsong dan menjawab tantangan perubahan tersebut. Apabila tidak, pendidikan Islam akan tertinggal dalam persaingan global. Untuk itu, pendidikan Islam harus memerhatikan beberapa ciri yaitu:
  • Lebih diorientasikan atau menekankan upaya proses pembelajaran daripada mengajar;
  • Diorganisasikan dalam suatu struktur yang lebih bersifat fleksibel;
  • Memeprlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri;
  • Menjadi proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.
Keempat ciri ini, disebut dengan paradigma pendidikan sistematis-organik yang menuntut pendidikan bersifat double tracks, artinya pendidikan sebagai suatu proses yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakat.

***

Sumber:
  • Fasli Jalal, Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah, Yogyakarta: Adicita, 2001.
  • Hasan Basri, Kapita Selekta Pendidikan,Bandung: CV Pustaka Setia, 2012.
  • Onno W. Purbo, Tantangan Bagi Pendidikan Indonesia, from: http://www.detik.com/net/onno/jurnal/2004/aplikasi/pendidikan.
  • Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2000.
  • Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.